Flash Text

Senin, 10 Oktober 2011

We Are Not Predestined To Be Together - Part 5


  “Tadi aku bertemu dengannya. Awalnya dia menyapaku sambil tersenyum seperti biasa. Tapi saat aku menanyakan apakah ia tahu kamu ada dimana, tiba-tiba mukanya memerah dan ia langsung berkata bahwa ia harus segera pergi. Sebenarnya ada masalah apa antara kamu dengan Georgie? Apa kamu bertengkar dengannya?” tanya Emily dengan nada suara yang sangat serius.
             “Entahlah. Aku tidak bertengkar dengannya, Emily. Tiba-tiba saja saat aku  aku berjalan dengannya menuju set, ia tampak sangat murung. Kemudian, saat aku bertanya apakah ia baik-baik saja, ia tampak tersenyum dengan terpaksa dan menyembunyikan sesuatu dariku. Ah… Aku bingung memikirkannya, Emily!” keluhku.
              “Hm… Apa kamu melakukan sesuatu yang munhkin bisa menyakiti hatinya?”
              “Of course not! But…”
              “What?”
              “Will had been continuously looked at me and smiled. Maybe…”
              “She was jealous of you Anna.” ujar Emily gemas.
              “Uh…… What should I do?” erangku.
              “Apa Will menyukaimu?”
              “Entahlah… Bagaimana menurutmu?”
              “Sepertinya iya…”
              “Really?” tanyaku sedikit bingung.
              “Of course. How about you? You love Will to, don’t you?”
              “No I don’t.”
              “Kalau begitu jelaskan saja pada Georgie apa yang sebenarnya terjadi.” saran Emily.
              “Aku juga ingin seperti itu. Tapi, sepertinya ia menghindariku.”
              “Oh ya?”
              “Sepertinya. Karena, saat selesai syuting ia langsung meninggalkan set. Padahal biasanya ia bermain dahulu denganku atau kru yang lain.”
             “Bagaimana kalau kau coba meneleponnya?”
             “Baiklah. Nanti aku akan menghubunginya.”
             “Kenapa tidak sekarang saja?”
             “Iya, deh.” jawabku pelan lalu mengambil HP yang kusimpan di kantong celanaku.
              Aku segera mencoba menghubungi Georgie. Tak ada jawaban. Aku mencobanya lagi, mungkin tadi ia tidak mendengar ada telepon. Sayangnya lagi-lagi tak ada jawaban. Aku tak mau menyerah, kucoba menghubunginya untuk ketiga kalinya. Kali ini ia langsung me-reject teleponku. Jujur aku kecewa. Siapa yang tidak akan kecewa jika niat baiknya ditolak seperti ini? Aku menutup mukaku dengan kedua tanganku, mencoba menghilangkan semua rasa gelisah yang kurasakan. Tapi tetap saja tidak bisa. Tiba-tiba aku merasa amat sangat sedih.
              ‘Tuhan, aku tidak mau keadaan menjadi seperti ini. Aku tidak mau bermusuhan dengan Georgie…’ jeritku dalam hati.
              Aku mencoba agar tak mengeluarkan setetes air matapun, tapi mustahil. Percuma saja aku mencoba menahan sekuat tenaga, karena airmataku terus saja mengalir dengan deras.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar