3 jam kemudian aku kembali ke hotel. Setibanya di dalam kamar hotel aku segera merebahkan diri. Kepalaku masih dipenuhi pertanyaan tentang sikap Georgie tadi.
‘Apa dia marah padaku? Apa jangan-jangan dia melihatku berbicara dengan Will? Atau jangan-jangan dia mendengar apa yang Will katakan padaku tadi?’ batinku terus berkecamuk. Aku ingin tidur dan melupakan semua yang terjadi pada hari ini, tapi mataku tak mau terpejam. Aku merapatkan selimutku, mencoba memejamkan mataku, dan mencoba melupakan pertanyaan-pertanyaan yang berputar-putar di kepalaku.
Saat aku baru merasa terlelap tiba-tiba ada yang menarik selimutku –kamu tahu, aku paling benci kalau saat aku sedang terlelap tiba-tiba seseorang menarik selimutku- hingga aku terbangun. Aku mendapati Lulu tersenyum dan duduk di tempat tidurku.
“Lulu, kenapa kamu membangunkanku?” tanyaku sedikit kesal.
“Kamu ditunggu sama Emily tuh, di lobby. Katanya daritadi dia menghubungi teleponmu, tapi kamu tidak mengangkatnya.” jelas Lulu.
“Benarkah?” tanyaku lalu mengambil HP yang ada di meja di sebelah tempat tidurku dan mengecek panggilan tak terjawab.
“Periksa saja.” jawab Lulu singkat.
“Astaga, ada 5 panggilan dari Emily! Aku harus segera menemuinya!” seruku lalu berjalan menuju ke pintu.
“Eits, jangan pergi dulu kakakku yang cantik.” Lulu menarik tanganku.
“Ih… Memangnya kenapa?” tanyaku bingung.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar