Tuhan,
Kalau kami memang sudah ditakdirkan untuk bersama,
Dekatkanlah kami,
Tapi, jika kami tidak boleh bersama,
Tolong buatlah kami melupakan rasa cinta yang kami rasa ini…
Kalau kami memang sudah ditakdirkan untuk bersama,
Dekatkanlah kami,
Tapi, jika kami tidak boleh bersama,
Tolong buatlah kami melupakan rasa cinta yang kami rasa ini…
-Saat ini adalah waktu break syuting LWW. Tampak para pemain sedang santai menikmati secangkir the, para kru sibuk kesana-kemari membetulkan peralatan yang sudah tidak benar lagi. Sedangkan Andrew sedang sibuk mengotak-atik iPod-nya.-
Aku menyesap teh yang ada di dalam gelas di genggamanku dengan nikmat. Tiba-tiba aku merasa sepasang mata menatapku terus-menerus, aku merasa risih. Aku mengangkat kepalanya dan melihat Will sedang menatapku sambil tersenyum.
‘Oh My God… He looks very handsome!’ batinku. Tapi tiba-tiba kenyataan menendangku dari angan-angan. Aku langsung menatapnya dan berpura-pura marah karena ia terus menatapku, walaupun dalam hati aku merasa bagai melayang.
“Why you staring at me like that, Will?”
“Because, you look so beautiful Anna…” Will tersenyum terus.
“Thank’s. Tapi jangan terus manatapku seperti itu. Aku merasa sangat risih Will. Lagipula, apa kamu mau melihat aku dan Georgie bermusuhan karena hal ini?”
“Apa maksudmu?”
“Oh God. Kamu kan pacaran sama dia Will!” ujarku gemas.
“Tidak. Aku sudah memutuskannya, kok.” bantah Will.
“Tapi bukan berarti dia sudah tidak menyukaimu lagi, kan?”
“Iya. Tapi….”
“Tapi apa?” potongku.
“Biarkan saja. Toh aku sudah tidak menyukainya lagi” ujar Will sambil berlalu.
‘Argh…. Apa dia benar-benar ingin membuatku dan Georgie bertengkar hanya karena hal ini?’ batinku sebal.
Aku kembali meminum tehnya sedangkan Will berpura-pura sibuk dengan iPhone di genggamannya, walaupun aku tahu kadang ia mencuri pandang padaku. Tiba-tiba seseorang menepuk bahuku. Aku memutar kepalaku dan melihat Tante Zelfa – mamanya Skandar, berdiri di sampingku.
“Oh, tante Zelfa. Ada apa?”
“Anna, tante mau kembali ke hotel dulu. Tante titip tolong jagain Skandar sebentar ya. Soalnya dia itu tidak bisa diam.”
“Oke tante.” ujarku sambil tersenyum.
“Thanks Anna.”
“No problem….”
Tante Zelfa lalu berjalan menjauh dariku. Aku merasa sedikit kesepian karena tidak ada teman untuk berbicara. Aku mengambil script yang ada di meja di sebelahku dan mempelajarinya. Berharap hal ini bisa mengurangi rasa kesepianku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar