Flash Text

Senin, 10 Oktober 2011

We Are Not Predestined To Be Together - Part 6


 Tiba-tiba aku merasa sepasang tangan memelukku. Aku mendongakkan kepalaku dan melihat wajah Emily yang sedikit kaget, mungkin karena melihatku menangis.
                  “Jangan menangis disini Anna. Ayo kita ke kamarmu dulu.” ajaknya lalu meraih tangannku memintaku untuk mengikutinya.
                    Aku mengusap air mata di mukaku dan mulai berjalan mengikutinya. Aku sempat melihat beberapa orang menatapku dengan heran. Aku segera berjalan setengah berlari, berharap orang-orang tak melihatku menangis. Beberapa saat kemudian, aku dan Emily tiba di kamarku. Untunglah Lulu sudah meninggalkan kamarku, kalau tidak bisa-bisa ia mengejekku kalau melihat pipiku yang basah karena airmata. Aku langsung menghempaskan diri ke kasur dan kembali menangis. Aku bisa merasakan Emily duduk di sampingku dan mengelus-elus bahuku.
                   “Menangislah sepuasnya agar hatimu tenang…”
                    Hanya itu yang diucapkan Emily. Hanya 5 kata. Tidak ada kata-kata lain. Tapi entah kenapa ucapannya itu malah membuatku menangis semakin hebat. Entah beberapa lama aku menangis, rasanya amat sangat lama. Emily hanya bisa diam seraya mengelus bahuku. Beberapa lama kemudian tangisku mereda. Aku mulai mencoba menjelaskan segalanya pada Emily. Aku sangat berharap bisa mendengar kata-kata bijak dari mulutnya yang bisa menenangkan hatiku.
                    “E… Emily…” panggilku lirih.
                    “Ya?”
                     “Bo…boleh… aku… ceri…ta ke… ka…mu?”
                     “Tentu saja…Tapi aku ingin bertanya dulu ke kamu. Kenapa kamu tiba-tiba menangis seperti itu?”
                     “Georgie…”
                     “Hah? Georgie kenapa?”
                     “Di…a… dia sengaja tidak… menjawab te…leponku… dua kali…”
                     “Mungkin dia tidak mendengar ada telepon…” potong Emily.
                     “Dia… sengaja me…reject tele…ponku yang ketiga…”
                     “Mungkin bukan dia yang mereject Anna. Mungkin kakaknya atau mamanya.”
                     “Tidak mungkin!” seruku tertahan.
                     “Kenapa tidak mungkin?”
                     “Dia ti…dak per…nah memper…bolehkan… seseorang me…megang ha…ndphonenya…” jelasku dengan kepala tertunduk.
                     “Hm…” 
                     “Dia benar-benar sudah membenciku Emily…” ujarku pelan lalu kembali membenamkan kepalaku ke bantal dan kembali menangis.


NB : Part berikutnya mungkin bakal agak lama nge-postnya, karena masalah perizinan sama ortu

We Are Not Predestined To Be Together - Part 5


  “Tadi aku bertemu dengannya. Awalnya dia menyapaku sambil tersenyum seperti biasa. Tapi saat aku menanyakan apakah ia tahu kamu ada dimana, tiba-tiba mukanya memerah dan ia langsung berkata bahwa ia harus segera pergi. Sebenarnya ada masalah apa antara kamu dengan Georgie? Apa kamu bertengkar dengannya?” tanya Emily dengan nada suara yang sangat serius.
             “Entahlah. Aku tidak bertengkar dengannya, Emily. Tiba-tiba saja saat aku  aku berjalan dengannya menuju set, ia tampak sangat murung. Kemudian, saat aku bertanya apakah ia baik-baik saja, ia tampak tersenyum dengan terpaksa dan menyembunyikan sesuatu dariku. Ah… Aku bingung memikirkannya, Emily!” keluhku.
              “Hm… Apa kamu melakukan sesuatu yang munhkin bisa menyakiti hatinya?”
              “Of course not! But…”
              “What?”
              “Will had been continuously looked at me and smiled. Maybe…”
              “She was jealous of you Anna.” ujar Emily gemas.
              “Uh…… What should I do?” erangku.
              “Apa Will menyukaimu?”
              “Entahlah… Bagaimana menurutmu?”
              “Sepertinya iya…”
              “Really?” tanyaku sedikit bingung.
              “Of course. How about you? You love Will to, don’t you?”
              “No I don’t.”
              “Kalau begitu jelaskan saja pada Georgie apa yang sebenarnya terjadi.” saran Emily.
              “Aku juga ingin seperti itu. Tapi, sepertinya ia menghindariku.”
              “Oh ya?”
              “Sepertinya. Karena, saat selesai syuting ia langsung meninggalkan set. Padahal biasanya ia bermain dahulu denganku atau kru yang lain.”
             “Bagaimana kalau kau coba meneleponnya?”
             “Baiklah. Nanti aku akan menghubunginya.”
             “Kenapa tidak sekarang saja?”
             “Iya, deh.” jawabku pelan lalu mengambil HP yang kusimpan di kantong celanaku.
              Aku segera mencoba menghubungi Georgie. Tak ada jawaban. Aku mencobanya lagi, mungkin tadi ia tidak mendengar ada telepon. Sayangnya lagi-lagi tak ada jawaban. Aku tak mau menyerah, kucoba menghubunginya untuk ketiga kalinya. Kali ini ia langsung me-reject teleponku. Jujur aku kecewa. Siapa yang tidak akan kecewa jika niat baiknya ditolak seperti ini? Aku menutup mukaku dengan kedua tanganku, mencoba menghilangkan semua rasa gelisah yang kurasakan. Tapi tetap saja tidak bisa. Tiba-tiba aku merasa amat sangat sedih.
              ‘Tuhan, aku tidak mau keadaan menjadi seperti ini. Aku tidak mau bermusuhan dengan Georgie…’ jeritku dalam hati.
              Aku mencoba agar tak mengeluarkan setetes air matapun, tapi mustahil. Percuma saja aku mencoba menahan sekuat tenaga, karena airmataku terus saja mengalir dengan deras.

We Are Not Predestined To Be Together - Part 4


 “Do you like your image crushed??” tanya Lulu sinis.
            “No. What would you like to say?”
            “Oh, come on. Do you not realize that your face is a mess now?” tanya Lulu gemas.
            “Really?” aku berjalan kearah cermin dan menatap bayanganku.
             Ternyata apa yang dikatakan Lulu benar, mukaku saat ini berantakan sekali dan rambutku juga acak-acakan. Aku segera  mengambil sisir dan merapikan rambutku serta memoles sedikit bedak agar mukaku terlihat lebih baik.
            “Nah, sekarang cepat kamu ke lobby Anna. Kasihan Emily, dia sudah menunggumu dari setengah jam yang lalu.” ujar Lulu sambil mendorongku keluar kamar.
           “Iya, iya…” jawabku.
            Aku segera menuju ke lobby hotel dan mencari Emily. Tidak mudah bagiku untuk segera bisa menemukannya, karena saat aku tiba di lobby, ternyata banyak orang yang mengenaliku, kemudian meminta tanda tangan dan berfoto bersama denganku. Mau tak mau aku meng-iyakan permintaan mereka. 15 menit kemudian akhirnya aku bisa menghindar dari kepungan orang-orang itu dan menemukan Emily sedang duduk sambil bermain netbook putih miliknya. Aku segera berlari-lari kecil kea rah Emily.
         “Emily, I’m so sorry. I made you waiting so long.” ujarku lalu memeluk Emily.
         “It’s alright Anna. I know you are very busy these day.”
         “I’m feel bad to you Emily. What can I do to make it up?”
         “Hm… Let me see. You must do all my science tasks.” jawabnya santai.
         “What?”
         “I’m kidding, Anna…” Emily tertawa kecil melihatku bingung.
         “Hhhh… You scared me Emily…”
         “Oh, really?” godanya.
         “Ah… Sudahlah lupakan hal itu dulu ya…” pintaku dengan raut muka memelas – yang aku yakini akan membuat hati Emily luluh.
         “Baiklah.”
          “Emily, kok tiba-tiba kamu datang ke hotel ini?”
         “Tidak boleh ya? Ya sudah, aku pulang dulu, ya…”
         “Ih… bukan begitu maksudku…”
         “Well, aku sedang pergi dengan mamaku, dan melewati hotel ini. Kemudian aku teringat kalau kamu pernah bilang kamu akan menginap di hotel ini, jadi aku meminta pada mamaku untuk menurunkanku disini.”
         “Oh… Eh, kamu sudah bertemu dengan Georgie hari ini?”
        “Sudah. Dan em.... aku ingin bertanya sesuatu mengenai Georgie padamu Anna.”
        “Kamu ingin bertanya apa?” tanyaku sedikit was-was.

We Are Not Predestined To Be Together - Part 3


3 jam kemudian aku kembali ke hotel. Setibanya di dalam kamar hotel aku segera merebahkan diri. Kepalaku masih dipenuhi pertanyaan tentang sikap Georgie tadi.
            ‘Apa dia marah padaku? Apa jangan-jangan dia melihatku berbicara dengan Will? Atau jangan-jangan dia mendengar apa yang Will katakan padaku tadi?’ batinku terus berkecamuk. Aku ingin tidur dan melupakan semua yang terjadi pada hari ini, tapi mataku tak mau terpejam. Aku merapatkan selimutku, mencoba memejamkan mataku, dan mencoba melupakan pertanyaan-pertanyaan yang berputar-putar di kepalaku.
            Saat aku baru merasa terlelap tiba-tiba ada yang menarik selimutku –kamu tahu, aku paling benci kalau saat aku sedang terlelap tiba-tiba seseorang menarik selimutku- hingga aku terbangun. Aku mendapati Lulu tersenyum dan duduk di tempat tidurku.
            “Lulu, kenapa kamu membangunkanku?” tanyaku sedikit kesal.
            “Kamu ditunggu sama Emily tuh, di lobby. Katanya daritadi dia menghubungi teleponmu, tapi kamu tidak mengangkatnya.” jelas Lulu.
            “Benarkah?” tanyaku lalu mengambil HP yang ada di meja di sebelah tempat tidurku dan mengecek panggilan tak terjawab.
            “Periksa saja.” jawab Lulu singkat.
            “Astaga, ada 5 panggilan dari Emily! Aku harus segera menemuinya!” seruku lalu berjalan menuju ke pintu.
            “Eits, jangan pergi dulu kakakku yang cantik.” Lulu menarik tanganku.
            “Ih… Memangnya kenapa?” tanyaku bingung.

We Are Not Predestined To Be Together - Part 2


   “Anna, Georgie, ayo cepat kesini!”
            “Ok Andrew…” aku dan Georgie lalu berjalan ke arahnya.
            “Sekarang kita take waktu kalian mengikuti Aslan ya.” perintahnya.
            “Iya.” jawabku sedangkan Georgie hanya mengangguk.
            Aku dan Georgie berjalan masuk ke dalam set. Georgie menunduk terus. Aku merasa heran, karena biasanya ia paling ceria diantara semua kru dan pemain lainnya.
            “Georgie, kamu kenapa? Kamu sakit?”
            “Engh… Tidak kok. Aku baik-baik saja…” ujarnya dengan nada suara yang dibuat-buat ceria.
            “Really?”
            “Yeah…” Georgie tersenyum
             Mau tak mau aku ikut tersenyum juga, walaupun dalam hati aku merasa curiga dan sangat yakin bahwa ada sesuatu yang dia sembunyikan dariku.
            ‘Jangan-jangan dia marah padaku? Ah sudahlah, mungkin ini cuma perasaanku saja. Lebih baik sekarang kau konsen, Anna. Agar syuting hari ini cepat selesai!’ suara batinku mulai menyuruhku. Aku memutuskan agar aku melakukannya dengan sepenuh hati, agar hasilnya bisa sempurna, walaupun dalam hati aku masih sedikit bingung pada kelakuan Georgie barusan.
             “Hey Anna! Stop dreaming now!” terdengar teriakan Andrew.
             “Eh…er…… Okay Andrew, I’m so sorry!!!” jawabku.
             “Iya… Ayo ulang take-nya lagi!” perintah Andrew.
             Aku segera kembali ke tempat seharusnya, dan mulai melakukan adegan yang harus kulakukan dengan Georgie.

We Are Not Predestined To Be Together - Part 1

Ini JD pertamaku, maaf ya kalau jelek :)

Tuhan,
Kalau kami memang sudah ditakdirkan untuk bersama,
Dekatkanlah kami,
Tapi, jika kami tidak boleh bersama,
Tolong buatlah kami melupakan rasa cinta yang kami rasa ini…

-Saat ini adalah waktu break syuting LWW. Tampak para pemain sedang santai menikmati secangkir the, para kru sibuk kesana-kemari membetulkan peralatan yang sudah tidak benar lagi. Sedangkan Andrew sedang sibuk mengotak-atik iPod-nya.-
            Aku menyesap teh yang ada di dalam gelas di genggamanku dengan nikmat. Tiba-tiba aku merasa sepasang mata menatapku terus-menerus, aku merasa risih. Aku mengangkat kepalanya dan melihat Will sedang menatapku sambil tersenyum.
            ‘Oh My God… He looks very handsome!’ batinku. Tapi tiba-tiba kenyataan menendangku dari angan-angan. Aku langsung menatapnya dan berpura-pura marah karena ia terus menatapku, walaupun dalam hati aku merasa bagai melayang.

            “Why you staring at me like that, Will?”
            “Because, you look so beautiful Anna…” Will tersenyum terus.
            “Thank’s. Tapi jangan terus manatapku seperti itu. Aku merasa sangat risih Will. Lagipula, apa kamu mau melihat aku dan Georgie bermusuhan karena hal ini?”
            “Apa maksudmu?”
            “Oh God. Kamu kan pacaran sama dia Will!” ujarku gemas.
            “Tidak. Aku sudah memutuskannya, kok.” bantah Will.
            “Tapi bukan berarti dia sudah tidak menyukaimu lagi, kan?”
            “Iya. Tapi….”
            “Tapi apa?” potongku.
            “Biarkan saja. Toh aku sudah tidak menyukainya lagi” ujar Will sambil berlalu.

             ‘Argh…. Apa dia benar-benar ingin membuatku dan Georgie bertengkar hanya karena hal ini?’ batinku sebal.
            Aku kembali meminum tehnya sedangkan Will berpura-pura sibuk dengan iPhone di genggamannya, walaupun aku tahu kadang ia mencuri pandang padaku. Tiba-tiba seseorang menepuk bahuku. Aku memutar kepalaku dan melihat Tante Zelfa – mamanya Skandar, berdiri di sampingku.
            “Oh, tante Zelfa. Ada apa?”
            “Anna, tante mau kembali ke hotel dulu. Tante titip tolong jagain Skandar sebentar ya. Soalnya dia itu tidak bisa diam.”
            “Oke tante.” ujarku sambil tersenyum.
            “Thanks Anna.”
            “No problem….”
             Tante Zelfa lalu berjalan menjauh dariku. Aku merasa sedikit kesepian karena tidak ada teman untuk berbicara. Aku mengambil script yang ada di meja di sebelahku dan mempelajarinya. Berharap hal ini bisa mengurangi rasa kesepianku.